6 September 2026
Riau - Indonesia
BERITA Kampar

Bupati Kampar Apresiasi Ninik Mamak dan Masyarakat Tanjung Belit Jaga Kelestarian Alam Lewat Lubuk Larangan

KAMPAR KIRI HULU – Bupati Kampar Ahmad Yuzar mengapresiasi komitmen ninik mamak dan masyarakat Desa Tanjung Belit, Kecamatan Kampar Kiri Hulu, dalam menjaga kelestarian lingkungan melalui tradisi Lubuk Larangan. Hal itu disampaikannya saat menghadiri kegiatan Mancokau Ikan di Lubuk Larangan Desa Tanjung Belit, Sabtu (5/9/2026).

Menurut Ahmad Yuzar, Lubuk Larangan merupakan bentuk kearifan lokal yang tidak hanya mampu menjaga kelestarian sumber daya perairan, tetapi juga memperkuat nilai adat, kebersamaan dan perekonomian masyarakat.

Ia menyampaikan apresiasi kepada ninik mamak, tokoh masyarakat dan seluruh warga Desa Tanjung Belit yang secara konsisten mempertahankan aturan adat dalam menjaga kawasan sungai yang telah diwariskan secara turun-temurun.

“Lubuk Larangan ini bukan saja menjadi sumber pencaharian masyarakat, namun lebih dari itu menjadi salah satu bentuk nyata dalam menjaga sumber daya alam. Prinsipnya sederhana, jaga alam, maka alam akan menjaga kita,” ujar Ahmad Yuzar.

Dalam kesempatan tersebut, Bupati Kampar didampingi Sekda Kampar Dr. Ardi Mardiansyah, S.STP., M.Si., beserta istri Ny. Yuni Pratiwi Sari Ardi Mardiansyah. Turut hadir Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Kampar Afdal, ST., MT., Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Kampar Zulfahmi, Kepala Bapenda Kampar Zamhur, ST., MT., Kepala Dinas Pertanian Nurilahi Ali, Ketua Baznas Kampar Arizon, SE., Camat Kampar Kiri Hulu Bustamar beserta Forkopimcam, para kepala bagian di lingkungan Setda Kampar, serta Kepala Desa Tanjung Belit Efri Desmi.

Kegiatan tersebut juga diikuti Ninik Mamak Kenegerian Tanjung Belit, tokoh masyarakat, tokoh pemuda dan masyarakat Desa Tanjung Belit yang antusias mengikuti rangkaian tradisi Mancokau Ikan.

Bupati Kampar kemudian secara simbolis melempar jala sebagai tanda dibukanya kegiatan Mancokau Ikan. Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan bentuk nyata dari hasil kepedulian masyarakat dalam menjaga sungai dan memberikan ruang bagi ikan untuk berkembang biak.

“Hal ini telah kita saksikan hari ini. Dengan menjaga sungai sebagai tempat berkembang biaknya ikan, maka kita dapat melakukan panen ikan yang kita lakukan hari ini. Ini adalah hasil dari kesabaran, kepatuhan dan komitmen masyarakat dalam menjaga alam,” katanya.

Perkuat Silaturahmi dan Nilai Adat

Ahmad Yuzar menilai tradisi Mancokau Ikan tidak hanya memiliki nilai ekologis, tetapi juga mengandung nilai sosial dan budaya yang tinggi. Kegiatan tersebut menjadi momentum bagi masyarakat untuk berkumpul, bersilaturahmi dan mempererat hubungan kekeluargaan.

“Melalui Mancokau ini, jalinan silaturahmi semakin erat. Yang jauh pulang ke kampung untuk berjumpa sanak famili dan keluarga. Ini bukan hanya tentang ikan, tetapi tentang kebersamaan, tentang adat dan tentang bagaimana kita menjaga hubungan sesama,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Ahmad Yuzar melihat tradisi Lubuk Larangan dan Mancokau Ikan memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai daya tarik wisata berbasis kearifan lokal.

Menurutnya, ketika kelestarian alam, tradisi dan kebersamaan masyarakat dapat dipertahankan, manfaatnya tidak hanya dirasakan dalam aspek lingkungan dan sosial, tetapi juga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.

“Ekonomi masyarakat bergerak, pariwisata menggeliat dan masyarakat ikut merasakan semarak ini,” tuturnya.

Ia berharap tradisi yang diwariskan para leluhur tersebut terus dipelihara dan diperkenalkan kepada generasi muda. Menurutnya, menjaga Lubuk Larangan berarti menjaga sungai, ikan dan lingkungan sekaligus menjaga keberlanjutan kehidupan masyarakat.

Bupati Kampar juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus memperkuat semangat gotong royong dalam menjaga lingkungan serta mempertahankan nilai-nilai adat yang selama ini telah terbukti mampu menjadi benteng dalam melindungi sumber daya alam.

“Semoga apa yang dilakukan masyarakat Tanjung Belit ini terus dipertahankan. Jangan hanya kita nikmati hasilnya hari ini, tetapi mari kita jaga agar anak cucu kita nanti juga dapat merasakan manfaatnya,” pungkasnya.

Tradisi Mancokau Ikan di Lubuk Larangan Tanjung Belit menjadi bukti bahwa kearifan lokal dapat berjalan seiring dengan pelestarian lingkungan. Ketika adat dijaga, alam dipelihara dan masyarakat bersatu, manfaatnya dapat kembali kepada masyarakat melalui keberlanjutan sumber daya alam, semakin kuatnya kebersamaan, serta terbukanya peluang pengembangan ekonomi dan pariwisata lokal.***

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *