ROKAN HULU – Ribuan warga memadati kawasan Pujasera Sungai Batang, Pasir Pengaraian, Selasa (17/2/2026), untuk mengikuti tradisi sakral Potang Balimau, ritual warisan leluhur Melayu dalam menyambut bulan suci Ramadan.
Di tengah lautan manusia yang datang membawa harapan dan doa, Bupati Rokan Hulu Anton Hasibuan hadir bersama Wakil Bupati Syafruddin Poti, mengikuti langsung prosesi adat yang sarat makna tersebut.
Tradisi Potang Balimau bukan sekadar seremoni tahunan. Ia menjadi simbol penyucian diri, pembersihan hati, serta ajakan untuk saling memaafkan sebelum memasuki bulan penuh ampunan. Di tepian Sungai Batang, air tidak sekadar mengalir ia menjadi saksi niat, peneguh tekad, dan pengingat nilai spiritual yang diwariskan turun-temurun.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Sekretaris Daerah, para Asisten Setda, unsur Forkopimda, tokoh adat dari Lembaga Adat Melayu Riau Rokan Hulu, serta seluruh jajaran perangkat daerah di lingkungan Pemerintah Kabupaten Rokan Hulu. Kehadiran para pemangku kepentingan ini menjadi penegasan bahwa pemerintah daerah berkomitmen menjaga dan melestarikan budaya masyarakatnya.
Dalam sambutannya di hadapan ribuan warga, Bupati Anton Hasibuan menyampaikan pesan yang tegas dan penuh makna.
“Potang Balimau yang kita laksanakan hari ini bertujuan untuk mensucikan diri, membersihkan hati, dan saling bermaaf-maafan. Dengan demikian, ibadah puasa dapat kita jalankan tanpa beban dan hambatan, dengan hati yang bersih dan tenang,” ujarnya.
Tradisi Potang Balimau telah menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas masyarakat Rokan Hulu. Selain mempererat hubungan manusia dengan Tuhan, ritual ini juga memperkuat solidaritas sosial di tengah masyarakat. Di saat dunia bergerak menuju kehidupan yang semakin individualistik, Potang Balimau justru menampilkan wajah kebersamaan, religiusitas, dan kearifan lokal yang tetap terjaga.
Dari tepian sungai di Riau, tersampaikan pesan besar bahwa kekuatan suatu daerah bahkan bangsa tidak hanya bertumpu pada pembangunan ekonomi dan politik, tetapi juga pada kemampuannya merawat tradisi, menghormati leluhur, dan mempersiapkan diri secara spiritual. Potang Balimau bukan sekadar tradisi lokal; ia adalah identitas, penanda bahwa nilai-nilai Melayu tetap hidup, tegak, dan lestari.(dr/kominfo)


