6 Desember 2025
Riau - Indonesia
BERITA Kampar

Kasus Kekerasan Anak di Kampar Meningkat, UPTD PPA Catat 124 Kasus hingga Agustus 2025

Kampar – Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Kabupaten Kampar, Lindawati, mengungkapkan bahwa kasus kekerasan terhadap anak di daerah tersebut terus meningkat. Hingga Agustus 2025, UPTD PPA mencatat telah menerima dan menangani sebanyak 124 kasus, dengan mayoritas korbannya adalah anak-anak.

Jumlah tersebut mengalami peningkatan signifikan dibandingkan Juni 2025 yang tercatat sebanyak 86 kasus.

“Kasus yang sudah diterima dan ditangani oleh UPTD PPA Kampar hingga Agustus ada 124 kasus, mayoritas merupakan kekerasan terhadap anak. Kondisi ini sangat memprihatinkan dan harus menjadi perhatian kita bersama, baik orang tua maupun pemerintah,” ujar Lindawati, Selasa (26/8/2025).

Menurutnya, terdapat sejumlah faktor utama yang memicu meningkatnya kasus tersebut, di antaranya pola asuh orang tua yang keliru, kondisi ekonomi keluarga yang sulit, serta rendahnya tingkat pendidikan orang tua. Kombinasi faktor tersebut membuat anak-anak rentan menjadi korban.

Lindawati menambahkan, sebagian besar pelaku kekerasan justru berasal dari lingkungan terdekat korban, termasuk keluarga dan bahkan guru.

“Kalau pendidikan mereka tinggi tapi masih melakukan kekerasan, berarti kembali lagi pada masalah iman dan kesehatan mental. Ada juga pelaku yang mengalami gangguan, misalnya hiperseks. Tapi yang jelas, korbanlah yang paling dirugikan,” tegasnya.

Untuk menekan angka kekerasan anak, ia mendorong Pemerintah Daerah Kampar bersama masyarakat agar menyediakan wadah kegiatan positif bagi anak-anak. Ia mencontohkan program di Bandung, di mana anak-anak yang bermasalah dititipkan ke barak pembinaan sehingga kembali disiplin.

“Kalau kita hanya memandang sebelah mata, kasus kekerasan tidak akan berkurang, malah bertambah,” ujarnya.

Selain itu, Lindawati menekankan pentingnya sosialisasi pencegahan kekerasan anak secara menyeluruh di sekolah, masjid, kantor desa, maupun kantor camat.

“Semua lini harus diberi pemahaman. Hanya dengan kebersamaan, saya yakin angka kekerasan anak bisa ditekan,” tutupnya.***

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *