KAMPAR – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Kampar masih menunggu hasil uji laboratorium sampel air Sungai Tapung terkait dugaan pencemaran yang menyebabkan puluhan ton ikan mati dalam beberapa waktu terakhir.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala DLH Kampar Refizal melalui Kepala Bidang Penataan Lingkungan Hidup, Erinaldi, mengatakan tim gabungan telah turun langsung ke lokasi sejak hari kejadian untuk melakukan identifikasi awal.
“Tim sudah turun pada hari kejadian. Sampel air telah diambil dan saat ini sedang diuji di laboratorium tingkat provinsi di Pekanbaru,” ujarnya, Rabu (8/4/2026).
Ia menjelaskan, sampel air diambil dari tiga anak sungai yang bermuara ke Sungai Tapung, yakni Sungai Kompe, Sungai Banau, dan Sungai Doliek.
Menurut Erinaldi, proses pengujian laboratorium diperkirakan memerlukan waktu sekitar dua hingga tiga pekan sebelum hasilnya dapat disimpulkan secara resmi.
Ia menegaskan bahwa persoalan pencemaran lingkungan merupakan isu kompleks sehingga tidak dapat langsung disimpulkan berasal dari satu sumber tertentu tanpa hasil analisis laboratorium.
“Hasil uji laboratorium akan menjadi dasar analisis lanjutan dalam menentukan penyebab pasti kejadian tersebut,” jelasnya.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, peristiwa kematian ikan di Sungai Tapung bukan kali pertama terjadi. Kejadian serupa dilaporkan telah terjadi pada Desember 2025, Februari 2026, dan kembali terulang pada Maret 2026. Namun, peristiwa terbaru diduga menjadi yang paling besar dampaknya.
Saat melakukan penelusuran di wilayah Sekijang, tim menemukan sejumlah ikan mati di aliran Sungai Kompe hingga ke bagian hilir. Meski demikian, ikan yang berada di keramba milik masyarakat dilaporkan tidak terdampak secara signifikan.
Di bagian hulu Sungai Tapung terdapat pabrik kelapa sawit serta area perkebunan milik yang saat ini sedang melakukan kegiatan peremajaan (replanting). Dalam proses tersebut, pohon sawit yang diremajakan dikubur dan diberi bahan kimia tertentu.
Sejumlah masyarakat menduga bahan tersebut berpotensi mencemari aliran Sungai Tapung. Namun demikian, dugaan tersebut masih dalam tahap penyelidikan dan menunggu hasil resmi uji laboratorium dari DLH Kabupaten Kampar.***


