TempoNews45 RIAU Kampar Bedah Buku Tenun Akar, Helmi Ingatkan Pengelola Pendidikan Berorientasi pada Manfaat Anak
BERITA Kampar PENDIDIKAN

Bedah Buku Tenun Akar, Helmi Ingatkan Pengelola Pendidikan Berorientasi pada Manfaat Anak

KAMPAR — Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Kampar, Helmi, SH, MH, menilai buku Tenun Akar karya Dr. Hj. Misharti memberikan refleksi penting bagi pengelola pendidikan. Buku tersebut dinilai sukses merajut gagasan bahwa pembangunan sarana dan program publik harus berorientasi langsung pada manfaat nyata bagi anak dan keluarga.

Menurut Helmi, keberhasilan penyelenggaraan pendidikan tidak cukup diukur dari fisik bangunan semata, melainkan harus ditelusuri dari pengalaman langsung anak saat belajar, berinteraksi, dan menghadapi kendala di lingkungan sekolah.

“Ruang kelas yang baik perlu disertai proses belajar yang berkualitas, lingkungan yang aman, dan pelayanan yang jelas. Sarana yang tersedia harus benar-benar bekerja untuk kebutuhan anak. Dari situlah kita dapat menilai manfaat pembangunan,” ujar Helmi, Selasa (3/11/2026).

Pandangan ini sejalan dengan salah satu bab dalam buku karya Wakil Bupati Kampar tersebut, yang membedakan antara sekadar selesainya kegiatan administratif dengan perubahan nyata yang dirasakan masyarakat. Buku ini mencontohkan, meskipun sebuah sekolah memiliki gedung megah, orang tua tetap harus memastikan apakah anak benar-benar terlindung dari perundungan dan mendapat pendampingan saat mengalami kesulitan belajar.

Bagi Helmi, gagasan tersebut menjadi pengingat agar evaluasi pendidikan dilakukan secara berkelanjutan.

“Ketika guru mengikuti pelatihan, tindak lanjutnya harus terlihat di dalam kelas. Ketika sarana diperbaiki, pemanfaatannya wajib ditinjau. Dengan begitu, kita tahu bagian mana yang sudah membantu anak dan mana yang masih perlu dibenahi,” tegasnya.

Selain itu, Helmi turut menyoroti pentingnya kultur institusi dalam mendidik. Respons sekolah terhadap laporan atau keluhan anak, misalnya, menjadi bentuk pembelajaran karakter tentang keadilan dan perlindungan. Sekolah yang terbuka dan tanggap akan membuat anak merasa suaranya dihargai, sekaligus membangun kemitraan yang sehat dengan orang tua.

Dalam konteks mutu layanan, Helmi sepakat bahwa penilaian tidak hanya bertumpu pada data administratif, tetapi juga masukan dari para pengguna layanan (anak dan orang tua). Buku Tenun Akar juga secara tajam mengupas berbagai hambatan aksesibilitas—mulai dari jarak, biaya, prosedur yang rumit, kendala bahasa, hingga akses bagi penyandang disabilitas.

“Buku ini sangat penting sebagai bahan refleksi bagi para pemangku kebijakan. Kita diajak menilai setiap pekerjaan dari tingkat kemudahan, rasa aman, dan keadilan yang diterima masyarakat,” pungkasnya.***

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Exit mobile version