KAMPAR — Pemerintah Kabupaten Kampar memperkuat upaya pengendalian inflasi dengan mendorong masyarakat memperbanyak produksi cabai dan sayuran. Langkah itu dilakukan melalui penyaluran 17.300 bibit sayuran kepada delapan kelurahan di enam kecamatan.
Bantuan bibit tersebut diserahkan secara simbolis oleh Bupati Kampar pada 14 September 2026 melalui Dinas Pertanian, Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Kampar.
Kepala Dinas Pertanian, Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Kampar Nurilahi Ali melalui Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Budi Hantana mengatakan, pengembangan tanaman sayuran, khususnya cabai, merupakan bagian dari strategi pemerintah daerah untuk menekan laju inflasi.
“Tujuan dari program penyerahan bibit sayur-sayuran seperti cabai ini untuk menekan dan mengendalikan inflasi daerah. Karena komoditas cabai merupakan salah satu yang paling tinggi pengaruhnya terhadap inflasi daerah,” kata Budi, Selasa (15/9/2026).
Menurut Budi, peningkatan produksi cabai di tingkat masyarakat diharapkan dapat membantu menjaga ketersediaan komoditas tersebut. Dengan begitu, kebutuhan masyarakat tidak sepenuhnya bergantung pada pasokan dari luar daerah.
Pada tahap awal, program tersebut menyasar delapan kelurahan yang tersebar di enam kecamatan. Bibit yang diberikan terdiri atas 8.500 bibit cabai keriting, 4.800 bibit cabai rawit, 2.000 bibit terong, dan 2.000 bibit tomat.
Budi menjelaskan, bantuan memang disalurkan melalui kelurahan. Namun, pengembangannya tetap melibatkan kelompok masyarakat, terutama kelompok tani, gabungan kelompok tani (Gapoktan), dan kelompok wanita tani (KWT).
“Walaupun bantuan ini melalui kelurahan, wadahnya tetap kelompok tani, Gapoktan, atau KWT,” ujarnya.
Ia berharap setiap kelurahan penerima dapat mengembangkan bibit tersebut secara berkelanjutan. Tidak hanya berhenti pada bantuan yang diberikan pemerintah, masyarakat juga didorong memperluas penanaman secara mandiri.
“Harapan kita setiap kelurahan dapat menanam dan mengembangkan bibit sayur-sayuran. Kalau bisa, nanti ditambah oleh desa untuk pengembangannya,” kata Budi.
Ke depan, Dinas Pertanian Kampar juga mendorong agar program serupa dapat diperluas ke desa-desa. Menurut Rizal, pengembangan komoditas hortikultura tidak cukup hanya dilakukan di tingkat kelurahan jika ingin memberikan dampak yang lebih luas terhadap ketersediaan pangan dan pengendalian inflasi.
Untuk mendukung program tersebut, Dinas Pertanian melibatkan camat, lurah, serta penyuluh pertanian. Mereka diharapkan ikut melakukan pendampingan sehingga bibit yang disalurkan benar-benar ditanam dan dikembangkan.
Budi mengatakan, pemerintah daerah ingin bantuan tersebut menghasilkan produksi nyata di masyarakat, bukan sekadar penyaluran bibit.
“Program ini supaya bisa dikembangkan setiap desa, bukan kelurahan lagi,” ujarnya.
Dengan memperluas budidaya cabai dan sayuran, Pemkab Kampar berharap produksi lokal meningkat sehingga kebutuhan masyarakat dapat lebih banyak dipenuhi dari daerah sendiri. Langkah tersebut sekaligus diharapkan membantu menjaga stabilitas harga komoditas yang berpengaruh terhadap inflasi.(adv)

